Faktor ketidak suburan pria berkontribusi sebagian dan semata-mata pada masalah tidak memiliki anak pada sekitar 50% kasus. Sayangnya, 30-50% etiologi infertilitas pria tidak diketahui dan oleh karena itu, tidak ada terapi khusus yang dapat dilakukan. Penyebab infertilitas pria yang diketahui sangat banyak dan secara luas mencakup: varikokel, infeksi urogenital, faktor imunologis, ketidak cukupan seksual / ejakulasi, kelainan bawaan (misalnya, sindrom Kallmann, sindrom Klinefelter, dll.), Didapat kelainan urogenital, dan gangguan endokrin.

Koenzim Q10 adalah salah satu suplemen antioksidan di samping antioksidan lain seperti L carnitine, selenium, zink, vitamin E,dan Vitamin C. Koenzim Q10 banyak terdapat di dalam daging sapi, minyak ikan, sarden,dan kacang-kacangan . Dosis aman koenzim Q10 setiap hari adalah 1,200 mg; dosis yang biasa digunakan pada kasus defisiensi adalah 100-200 mg per hari. Koenzim Q10 telah digunakan sebagai suplemen makanan dalam pengobatan berbagai gangguan, seperti penyakit kardiovaskular, kolesterol tinggi dan diabetes mellitus, dan untuk meningkatkan fungsi kekebalan pada orang dengan HIV atau AIDS dan untuk bertindak sebagai agen antikanker pada kanker payudara. Ini juga banyak digunakan sebagai komponen dalam produk kosmetik seperti beberapa sampo dan kondisioner.

Koenzim Q10 memiliki peran melindungi tubuh dari radikal bebas.Dalam bentuk reduksinya koenzim Q10 sangat mudah melepaskan satu atau kedua elektron dan dapat berikatan dengan radikal bebas. Koenzim Q10 membantu enzim bekerja mencerna makanan dan melakukan proses tubuh lainnya. Pembentukan sperma melibatkan kondisi stabil free oxygen radical atau reactive oxygen species rendah.  Ketidak stabilan akan mendukung terjadinya denaturasi DNA sperma; kondisi ini merupakan faktor risiko 30-80% kasus infertilitas. Kondisi-kondisi yang meningkatkan free redical oxygen di antaranya merokok, konsumsi alkohol, kimia, pestisida, panas, dan varikokel. Atas dasar pemikiran keterlibatan ROS dalam proses spermatogenesis maka antioksidan diyakini dapat memperbaiki kualitas sperma dan dapat mengurangi kejadian infertilitas.

Gopinath, dkk. (2013) melakukan penelitian pada 138 sampel yang dibagi menjadi tiga kelompok dan diberi suplemen antioksidan kombinasi yang mengandung koenzim Q10. Kelompok pertama konsumsi suplemen antioksidan kombinasi yang mengandung koenzim Q10 dua kali sehari, kelompok dua sekali sehari, dan kelompok 3 diberi plasebo selama 90 hari; dilaporkan adanya perbaikan kualitas sperma secara signifikan baik pada kelompok pertama dan kelompok kedua, antar kedua kelompok tidak ditemukan perbedaan.

Salah satu penyebab paling sering infertilitas adalah idiopatik dan sering berhubungan dengan kualitas sperma yang buruk. Banyak modalitas untuk memperbaiki kualitas sperma, salah satunya antioksidan seperti koenzim Q10. Beberapa penelitian mendukung efektivitas koenzim Q10 sebagai suplemen antioksidan dalam memperbaiki kualitas sperma, namun belum terbukti meningkatkan kejadian kehamilan

Efek samping koenzim Q10 tidak dilaporkan fatal atau berbahaya; yang sering dikeluhkan adalah nyeri kepala, mual, dan rasa tidak nyaman di perut.  Beberapa penelitian menyatakan koenzim Q10 dapat berinteraksi dengan beberapa obat seperti anti-hipertensi, warfarin, statin, obat kontrasepsi oral, dan antidepresan trisiklik.

Referensi:

Hamada, A. J., Montgomery, B., & Agarwal, A. (2012). Male infertility : a critical review of pharmacologic management. 1–21.

El Refaeey, A., Selem, A., & Badawy, A. (2014). Combined coenzyme Q10 and clomiphene citrate for ovulation induction in clomiphene-citrate-resistant polycystic ovary syndrome. Reproductive BioMedicine Online, 29(1), 119–124. https://doi.org/10.1016/j.rbmo.2014.03.011

Pakpahan, C. (2019). Peranan Antioksidan Koenzim Q10 dalam Tatalaksana Infertilitas Pria. Countinuing Professional Development, 46(12), 772–775.

coenzyme-q-24601033 @ id.nature-only.com. (n.d.). http://id.nature-only.com/info/coenzyme-q-24601033.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.